Pengamat :Mbak Puti Miliki Efek Kejutan Bagi Lawan

Image
Thursday, 11 January 2018 | 22:05:01 WIB

SURABAYA (Nusapos.com) - Pilihan DPP PDIP memilih Puti Guntur Soekarno sebagai pengganti Abdullah Azwar Anas menjadi pasangan Saifullah Yusuf maju di injury time pendaftaran Pilgub Jatim 2018, dinilai sebagian pengamat politik sebagai pilihan yang tepat.

Hariyadi pengamat politik dari Unair Surabaya mengatakan kelebihan yang dimiliki Mbak Puti setidaknya ada lima hal. Pertama, dari sisi kapasitas dan kualifikasi paling tidak hampir bisa menyamai Anas. Sebab selain anggota DPR RI dua periode, dia juga memiliki perhatian lebih terhadap dunia pendidikan sehingga diangkat menjadi Guru Besar Tamu (kehormatan) mengajar di salah satu universitas di Jepang setiap semester.

"Dari sisi intelektual bisa dianggap mumpuni, sehingga mudah dibranding. Kekurangannya dia belum pernah menjadi political executif," ujar Hariyadi saat dikonfirmasi Kamis (11/1) kemarin.

Kedua, lanjut Hariyadi, kemunculan Mbak Puti juga memiliki efek kejutan bagi lawan pasangan Gus Ipul-Mbak Puti.  "Dia itu cucu dari Bung Karno yang memiliki historical live di Jatim sehingga mudah diindentifikasi oleh masyarakat yang sebelumnya belum mengenal," terangnya.

Ketiga, Mbak Puti juga mudah dibranding dalam waktu singkat karena sudah memiliki chemistry dengan Gus Ipul. Pasalnya, Gus Ipul merupakan anak angkat Bu Mega yang dititipkan oleh mendiang Gus Dur sehingga banyak mengenal keluarga besar Soekarno.

"Sekitar tahun 2000, Gus Ipul bersama sejumlah kiai Jatim dan Imam Utomo pernah ketemu saat Puti bersama keluarga Mega menunaikan ibadah haji di tanah suci," jelas Hariyadi.

Keempat, kehadiran Puti di Jatim juga bisa menjadi alat propaganda untuk rekonsiliasi kader PDI Perjungan yang selama ini masih setengah hati mendukung pasangan Gus Ipul-Anas. "Mbak Puti bisa jadi magnet gotong royong yang luar bisa bagi kader PDIP bukan hanya dari Jatim tapi juga dari luar Jatim untuk membantu pemenangan pasangan Gus Ipul-Mbak Puti," ungkap akademisi berpenampilan kalem ini.

Terakhir atau kelima, kata Hariyadi kemunculan Mbak Puti Guntur Soekarno di Jatim juga memperkuat relasi  NU dengan kelompok nasionalis khususnya PDIP semakin mesra karena merek memiliki obsesi yang sama yaitu menangkal radikalisme di Indonesia yang akhir-akhir ini kian marak.

"Farming bersama antara NU dan kelompok nasionalis dalam menangkal radikalisme itu semakin nyata dilakukan dengan sistematis dan struktural. Pasangan cicit pendiri NU dan cucu pendiri republik adalah gambaran inilah Indonesia," kelakar Hariyadi.

Sejarah juga pernah mencatat selain diawal-awal kemerdekaan, pada awal reformasi 1998, cucu pendiri NU dan anak sang proklamator juga pernah bersama-sama memimpin bangsa Indonesia melalui Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Wapres Megawati Soekarno Putri. "Dua kekuatan kultural ini juga sangat kuat di Jatim, sehingga peluang pasangan Gus Ipul-Mbak Puti memenangkan Pilgub Jatim cukup besar," tambahnya.

Di singgung soal peta partai koalisi pendukung Gus Ipul-Mbak Puti Guntur Soekarno sangat berbeda dengan peta politik nasional. Dengan lugas Hariyadi menyatakan bahwa politik di tingkat nasional itu tidak selalu tegak lurus dengan di daerah karena relasi politik di daerah sangat cair.

"PDIP, Gerindra dan PKS juga menjalin koalisi di Provinsi Sulawesi Selatan mengusung Nurdin Abdullah, tapi di Jatim ditambah PKB. Gerindra berhitung realistis sebab mereka berpikir siapa pasangan calon yang peluang menangnya paling besar," katanya.

Sebaliknya, bagi PKS kenapa mendukung pasangan Gus Ipul-Mbak Puti, kata Hariyadi karena secara ideologi PKS sangat sulit menerima pemimpin perempuan. Di sisi lain PKS juga memiliki ulama/kiai panutan yang relasi utamanya berujung pada para kiai khos. "Para kiai khos di Jatim khan sudah bersepakat mendukung Gus Ipul jadi para kiai PKS juga ikut menyarankan supaya mengikuti saran kiai khos," dalihnya.

Sementara untuk PAN, tambah Hariyadi memang sedikit berbeda karena mereka memiliki ikatan kuat dengan Pakde Karwo dan Demokrat pada dua Pilgub Jatim sebelumnya. Pertimbangan lainnya, secara kultur keagamaan memang antara NU dengan Muhammadiyah sering berbeda pendapat untuk urusan politik. 

 


Sumber : Tis

Laporan : Try Wahyudi Ary Setyawan

Editor : Red


loading...
Post
Jatim
Post
Jatim
Post
Jatim
Post
Jatim
Post
Jatim
Post
Jatim